7 Puisi Terbaik Sapardi Djoko Damono

7 Puisi Terbaik Sapardi Djoko Damono

Pada umumnya karya literasi yang sering diangkat ke layar lebar ialah kisah di novel atau buku non fiksi lainnya. Akan tetapi, ternyata puisi pun juga bisa dibuatkan menjadi sebuah film. Salah satunya ialah karya Sapardi Djoko Damono yang sempat ramai dibicarakan.

Sapardi Djoko Damono merupakan seorang pengarang dan pencipta karya literasi termasuk puisi. Pria yang lahir pada 20 Maret 1940 ini telah melahirkan beberapa buku kumpulan puisi yang cukup menyentuh. Beberapa puisi Sapardi Djoko Damono pun sudah tak asing dan bahkan dibuat musikalisasinya.

7 Puisi Terbaik Karya Sapardi Djoko Damono

Berbicara tentang Karya Sapardi, maka tak lepas dengan puisi dan novel. Tulisan yang ia ciptakan bukan sembarang ditulis dari daya imajinasi belaka. Akan tetapi lebih dari apa yang pernah ia rasakan.

Rasa bahagia, sedih, prihatin, yang dirasakan tersebut mampu menciptakan karya puisi dengan perasaan yang sama. Nah, berikut ini adalah 7 puisi Sapardi Djoko Damono yang akan menggugah Anda saat membacanya. Yuk, simak.

1. Hujan Bulan Juni

Puisi Hujan di Bulan Juni
Puisi Hujan di Bulan Juni

Siapa sangka bahwa film Hujan Bulan Juni ini diadaptasi dari perpaduan sebuah buku kumpulan puisi dengan berjudul sama. Film yang mengangkat puisi dari Sapardi ini berhasil menarik para penonton. Akibatnya bukunya pun semakin dicari karena dirasa kurang puas jika tak membaca hasil karyanya.

Secara keseluruhan, Hujan Bulan Juni menceritakan tentang bagaimana penantian seseorang terhadap orang yang dicintainya. Ia dengan sabar menunggunya tanpa lelah dan tetap tabah yang berujung sebuah balasan manis atas perjuangannya tersebut.

2. Yang Fana Adalah Waktu

yang fana itu waktu

Waktu merupakan hal yang digunakan semua orang. Tanpa waktu, manusia di muka bumi ini tak akan bisa mengatur segala sesuatunya yang berkaitan dengan keseharian secara teratur dan rapi.
Berbicara tentang waktu, Sapardi mengangkat hal ini menjadi tema dari tulisan puisinya.

Yang Fana Adalah Waktu, demikian judulnya. Inti dari puisi ini ialah tentang sisi negatif dimana masih ada manusia yang menyia-nyiakan waktu. Padahal waktu merupakan sesuatu yang amat berharga dalam sebuah perjalanan kehidupan manusia.

Yang Fana Adalah Waktu merupakan bentuk kritik dari Sapardi, betapa menyedihkan orang-orang yang menghabiskan waktu pada hal-hal kurang bermanfaat. Apalagi jika hal tersebut hanya bersifat sementara dan fana. Akibat dari itu semua, akhirnya akan timbul suatu penyesalan yang umumnya datang terlambat.

3. Hatiku Selembar Daun

hatiku selembar daun

Pada puisi, objek benda apapun bisa dijadikan bagian dari sebuah keindahan kata pada puisi. Seperti puisi milik Sapardi yang berjudul Hatiku Selembar Daun. Melihat dari judulnya si penulis mengibaratkan hati seseorang mirip selembar daun.

Dalam hal ini, Sapardi memanfaatkan majas metafora untuk mengibaratkan bentuk hati dan perasaannya tersebut dimana sama-sama mudah rapuh akan sesuatu. Penggunaan majas ini tampak sempurna dan indah terdengar ketika dibaca.

Jika ditelisik secara keseluruhan, puisi ini memiliki makna tentang bagaimana hati seseorang yang hendak bertemu ajalnya namun seakan tak ingin segera mengakhirinya dan meninggalkan dunia ini.

4. Aku Ingin

aku ingin

Lagi-lagi Sapardi mengangkat hal tentang romantisme percintaan dalam puisinya. Puisi yangberjudul Aku Ingin ini merupakan sebuah sajak singkat yang hanya ada dua bait dan masing-masing terdiri dari 3 baris.

Meski singkat, namun makna dari sajak puisi ini cukup dalam. Puisi ini menceritakan bagaimana seseorang mencintai pujaannya secara sederhana dan apa adanya dengan pengorbanan cinta yang tiada tara serta tanpa syarat.

5. Sajak Kecil Tentang Cinta

sajak kecil tentang cinta

Jika sekilas melihat dari judul puisi milik Sapardi ini, yaitu Sajak Kecil Tentang Cinta, mungkin Anda akan beranggapan bahwa isinya adalah tentang romantisme percintaan lagi. Ya, memang benar tema puisi ini ialah tentang cinta. Akan tetapi bukan hanya terhadap sesama manusia semata.

Puisi Sajak Kecil Tentang Cinta juga mengibaratkan bagaimana Anda dalam mencintai sesuatu hal. Anda harus dapat beradaptasi dan memposisikan diri dalam perspektif bagian dari sesuatu hal yang ingin dicintai. Itu sebabnya Sapardi memilih penggunaan diksi yang sepadan dan mengambil bagian dari alam semesta sebagai perumpamaannya.

6. Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari

berjalan ke barat

Karya puisi milik goresan Sapardi tak melulu terkait soal percintaan saja. Sapardi yang gemar melukiskan kata dengan mengambil objek alam ini pun menuliskan puisi berjudul Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari.

Karya literasi satu ini jika dibandingkan dengan puisi Sapardi lainnya termasuk agak sulit ditelaah. Selain itu, dapat menimbulkan penafsiran makna yang berbeda bagi si pembaca. Penafsiran tersebut bergantung dengan perspektif masing-masing karena setiap pembaca tentu memiliki pemahaman yang berbeda.

Pada intinya makna puisi ini ialah tentang bagaimana perlakuan kita sebagai manusia berhadapan dengan alam. Selain itu, akan berlakunya hukum sebab dan akibat jika kita memperlakukan alam dengan baik atau tidak.

7. Pada Suatu Hari Nanti

pada suatu hari nanti

Sebagai seorang pujangga dan seperti semuapenggiat sastra lainnya, Sapardi tentu tak ingin hanya dikenal sesaat saja. Ia pun juga ingin nama dan seluruh karya-karyanya dikenang serta abadi sepanjang masa. Hal yang dirasakannya ini pun dituangkan ke dalam puisi yang berjudul Pada Suatu Hari Nanti.

Baca Juga : Sastrawan Terbaik dalam Negri

Sapardi sadar bahwa dirinya tentu tidak akan kekal sepanjang masa. Oleh karena itu, ia berharap dari karya puisi dan tulisan tangannya yang lainlah kelak akan mampu membuat semua orang dapat mengingatnya dan abadi.

Itulah 7 puisi Sapardi Djoko Damono yang bisa Anda ulik untuk dibaca dan ditelaah. Puisi yang takhanya mampu menggetarkan hati pembaca namun juga memiliki makna tersirat yang mendalam dengan bahasanya yang sederhana.

Belum ada Komentar untuk "7 Puisi Terbaik Sapardi Djoko Damono"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel